Indi Sabet Perak JMSC

Indi Sabet Perak JMSC

Para anak didik SD Muhammadiyah 26 Surabaya tidak hanya menorehkan prestasi di bidang non akademik. Baca selengkapnya »

Shinta Karlina, ‘Sang Ujung tombak’ M26

Shinta Karlina, ‘Sang Ujung tombak’ M26

Satu sekolah Muhammadiyah jenjang SD bisa berkembang dan maju tidak hanya di tentukan Kepala Sekolah. Dalam menjalankan roda perkembangan, Kepala Sekolah dibantu “Menteri” bidang kehumasan, kurikulum, Kesiswaan dan ismuba. Baca selengkapnya »

Siswa Kelas 5 Unjuk Gigi

Siswa Kelas 5 Unjuk Gigi

Bulan November merupakan momentum terbaik SD Muhammadiyah 26 Surabaya. Banyaknya lomba yang di akhiri prestasi telah di tunjukkan para siswa SDM 26 Surabaya. Muhammad Ibrahim Razavi, salah satunya. Baca selengkapnya »

Gemilang Prestasi tim Renang M26

Gemilang Prestasi tim Renang M26

Siswa SD Muhammdiyah 26 Surabaya kembali mengukir prestasi. Kali ini para siswa berprestasi ajang Fun swimming competition session 1 Baca selengkapnya »

Unjuk Gigi Keberbakatan Siswa

Unjuk Gigi Keberbakatan Siswa

Sebagai Sekolah Islam, SD Muhammadiyah 26 melakukan melakukan pengemblengan akidah siswa. Dengan aqidah yang kuat dapat menghasilkan prestasi maksimal. Terbukti, para siswa SD berbranding Faith, Healthy, Science, Skill and Character ini tidak pernah ‘kering’ prestasi. Baca selengkapnya »

Kilau Sinar Tim HW SD Muhammadiyah 26 Surabaya

Kilau Sinar Tim HW SD Muhammadiyah 26 Surabaya

Tim HW SD Muhammadiyah 26 Surabaya mendapat prestasi terbaik lagi. Tim HW Putra sukses mengapai Juara 1, Tim HW Putri merengkuh juara 3 dalam Perkemahan Pengenal Tangguh Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan SD Muhammadiyah Se-Kota Surabaya Baca selengkapnya »

Geliat Siswa Semarakan Tanwir Aisyiyah 1 Kota Surabaya

Geliat Siswa Semarakan Tanwir Aisyiyah 1 Kota Surabaya

Kader Muhammadiyah yang tergabung di Amal Usaha Muhammmadiyah (AUM) sukses menyemarakkan kegiatan yang dilaksanakan Pengurus Aisyiyah Kota Surabaya, pada Minggu (14/01/2018). Baca selengkapnya »

Kilau Tari Sparkling M26

Kilau Tari Sparkling M26

Ekstrakulikuler bukan hanya untuk membina dan membibit bakat siswa. Tapi melalui ekskul, siswa bisa menunjukkan jati diri yang dimiliki menuju prestasi tidak saja dalam lomba.Tari Sparkling Surabaya salah satunya. Baca selengkapnya »

Indra B Lesmana, Talent Scouting Siswa M26

Indra B Lesmana, Talent Scouting Siswa M26

Pada tahun pelajaran 2017-2018, SD Muhammadiyah 26 Surabaya telah mengantarkan siswa berprestasi di bidang akademik dan non akademik. Baca selengkapnya »

Aksi Siswa Keberbakatan Berfantasi di TVRI

Aksi Siswa Keberbakatan Berfantasi di TVRI

Kecermalangan dalam meraih prestasi yang dicapai anak didik SD Muhammadiyah 26 Surabaya yang berbakat berujung manis. Pada Senin (22/01/2018) merupakan momen teristimewa bagi SD berbanding Faith, Healthy, Science, Skill and Character. Baca selengkapnya »

Kesigapan Tim Security Bertugas

Kesigapan Tim Security Bertugas

Di SD Muhammadiyah 26 Surabaya, tim security mempunyai peranan yang tidak boleh dipandang sebelah mata. Tim security SD Muhammadiyah 26 Surabaya yang beranggotakan Aziz musthofa, Asrul, Mustofa, Fauzi Mahdi, Bayu Firmawan, Taufikurrohman, Candra Setiawan senantiasa sigap dalam bertugas. Baca selengkapnya »

Tak Ada Tanah Liat, Plastisin pun Jadi

Tak Ada Tanah Liat, Plastisin pun Jadi

Pada Rabu (24/1/2017), anak didik kelas 1C SD Muhammadiyah 26 Surabaya melakukan pembelajaran tematik yakni cara membuat pot kecil. Namun, bahan dasar pot bukan dari tanah liat merupakan keunikan. Baca selengkapnya »

 

27 Poin Hasil Ujian Nasional

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah menggelar Konvensi Ujian Nasional (UN), di Gedung Kemdikbud, Jakarta. Konvensi yang berlangsung selama dua hari,  26-27 September 2013, serta dihadiri sedikitnya 350 peserta yang memiliki kepentingan dan peduli dengan pendidikan nasional.

Sebelum acara ditutup, Ketua Pelaksana Konvensi UN Bambang Indrayanto membacakan hasil rumusan konvensi tersebut. Ia menegaskan, bahwa UN tetap dilaksanakan dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan melalui peningkatan mutu lulusan sekolah sehingga mutu peserta didik bersaing baik di dalam negeri, regional, dan internasional.

Peningkatan mutu ini dapat dicapai dengan 27 poin yang dirumuskan dalam Konvensi UN:

  1. Pencapaian mutu sekolah dicapai dengan standar yang telah ditetapkan dan peningkatan standar secara berkala.
  2. Diadakannya UN mempunyai dasar hukum yang tercantum dalam peraturan perudang-undangan yang berlaku.
  3. Keberagaman kualitas sekolah di Indonesia memerlukan standar yang berlaku secara nasional yang pencapaiannya diukur melalui UN.
  4. UN mampu memberikan informasi pencapaian kompetensi sampai dengan ke tingkat sekolah dalam perbandingannya antar waktu, antar sekolah baik di tingkat kabupaten/kota, provinsi dan nasional sehingga dengan demikian dapat lebih tepat sasaran.
  5. Hasil UN dapat digunakan untuk memasuki jenjang pendidikan selanjutnya. Hasil UN tingkat SMA dapat digunakan untuk pemetaan dan pembinaan.
  6. Untuk menjamin krediilitasnya, maka UN harus diselengarakan secara institusional dan profesional oleh suatu lembaga independen, pencapaiannya dikembangkan melalui roadmap secara bertahap. Sebelum terbentuknya badan independen yang dimaksud, peran pemerintah pusat dalam hal ini meliputi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Agama, dan Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) penyelengaraan UN meliputi:
    • Penyusunan UN, pembuatan soal dengan melibatkan pendidik dan para ahli di bidangnya.
    • Mekanisme yang ditetapkan oleh pemerintah pusat, jumlah paket soal adalah 20 dengan tingkat kesukaran setara.
    • penyiapan bahan ujian mengikuti tahapan dan prosedur pengembangan standar, termasuk di dalamnya kisi-kisi penulisan soal, telaah, uji coba, analisis butir dan perakitan.
  7. Pengandaan dan distribusi soal dilaksanakan provinsi dengan pengawasan pemerintah pusat dan perguruan tinggi negeri serta perguruan tinggi swasta.
  8. Keberhasilan peran pemerintah pusat (seperti yang dimaksud butir ke tujuh) dan dukungan dari lembaga terkait. Yaitu DPR, Kementerian Keuangan, dan kepolisian. Ketika ada force major, penundaan pelaksanaan UN harus dilakukan secara nasional.
  9. Panitia penyelenggaraan UN terdiri dari panitia penyelenggara tingkat pusat, provinsi dan kabupaten/kota.
  10. Peran perguruan tinggi negeri dan swasta dalam UN meliputi pengawasan percetakan dan distribusi soal UN dari pendidikan dasar.
  11. Peran provinsi, dinas pendidikan dan Kantor Wilayah Kementerian Agama dalam UN meliputi penyiapan bahan, pelaksanaan, termasuk distribusi UN, penggandaan, pemindaian dan skoring.
  12. Peran kabupaten/kota dalam UN meliputi distribusi dari satuan pendidikan, pemindaian dan peran satuan pendidikan dalam UN meliputi penyiapan biodata peserta didik, penentuan calon pengawas ruang ujian dan pegawasan di ruang ujian.
  13. Peningkatan kredibilitas dan aksesibilitas UN dilakukan dengan cara peningkatan koordinasi pemerintah pusat, daerah, perguruan tinggi negeri dan swasta, satuan pendidikan negeri dan swasta dalam UN. Pendekatan sanksi hukum yang tegas akan dielaborasi tergantung kesalahan yang dilakukan.
  14. Pelaksanaan UN ke depan dilakukan melalui penjaminan aksesibilitas, kredibilitas dan akuntabilitas.
  15. Pembentukan lembaga mandiri profesional yang memiliki otoritas yang rintisan sistemnya melalui roadmap.
  16. Dalam penentuan kelulusan penggabungan nilai UN tetap pada komposisi 60-40 persen. Batas kelulusan standar nasional dari tahun ke tahun dinaikkan secara bertahap.
  17. Konstruksi soal UN terus menerus ditingkatkan sehingga dapat mengukur kemampuan peserta didik pada ranah kognitif yang lebih tinggi, kemampuan pada ranah afektif, kemampuan psikomotorik dan interaktif.
  18. Sasaran komposisi penggabungan nilai pada nilai kelulusan UN adalah 100 persen nilai UN dan 100 persen nilai sekolah dengan ketentuan bahwa semua peserta didik harus lulus di kedua nilai tersebut untuk dapat dinyatakan lulus pada jenjag penddidikan yang diikutinya. Sasaran ini akan dapat dicapai paling lama 5 tahun dengan pemenuhan delapan standar pendidikan.
  19. Pada penentuan kelulusan di tingkat sekolah, nilai rapor diberi nilai yang lebih tinggi dari UN dengan komposisi 70:30 yang diiringi dengan peningkatan kapasitas guru, terutama di bidang penilaian. Hal ini didasari pada nilai rapor merupaan hasil pengamatan berkesinambungan selama peserta didk mengikuti pendidikan pada jejang yang diikutinya.
  20. Nilai tiap semester pada sekolah dikirim ke dinas pendidikan kabupaten/kota, dan provinsi, serta ke Kementerian Agama melalui LPMP.
  21. Pengawasan dan pengamanan bahan ujian dilakukan dengan cara:
    • Pengawasan dalam penyusunan kisi-kisi yang dilakukan pusat.
    • Perakitan paket soal diawasi BSNP.
    • Serah terima master soal diselenggarakan penyelenggara pusat ke provinsi disaksikan perguruan tinggi negeri dan swasta, kepolisian dan kanwil.
    • Selama master soal belum dicetak, pengamanan dan pengawasan menjadi tanggung jawab kepolisian.
  22. Pengelolaan data peserta UN dilakukan dengan cara:
    • Pengamanan nilai rapor dikirim setiap semester kepada Dinas Pendidikan kabupaten/kota dan provinsi.
    • Pemerintah menetapkan dan menjalankan ketentuan serta sanksi yang tegas kepada dinas pendidikan yang  tidak mengirimkan nilai rapor calon peserta UN sesuai ketentuan yang berlaku.
    • Pemerintah menetapkan batas waktu penyerahan data UN dan nilai rapor.
    • Pengiriman nilai rapor dilakukan secara online. Bagi sekolah yang belum memiliki data online akan dipertimbangkan pada era berikutnya. Akan ada penyesuaian agar online bisa dilakukan pada sekolah tersebut.
  23. Penggandaan dan distribusi soal dilakukan berpegang pada penanggung jawab dan pengisian UN yang diawasi pusat, serta pengawasan dilakukan oleh perguruan tinggi. Naskah soal UN disimpan di tempat yang dapat dijamin keamanannya untuk hindari kebocoran soal di daerah terpencil maka bahan UN diberikan lebih awal dan dijaga ketat oleh aparat keamanan perguruan tinggi.
  24. Pengawasan pada saat UN akan berpegang pada:
    • Pengawas pelaksanaan UN di satuan pendidikan akan diawasi perguruan tinggi, dewan pendidikan dan LPMP.
    • Pengawas ruang ujian dilakukan secara silang oleh guru.
    • Pengawas satuan pendidikan dan pengawas ruang ujian ditetapkan oleh perguruan tinggi yang berkorodinasi dengan dinas pendidikan.
    • Aparat kepolisian saat pelaksanaan pengawasan tidak menggunakan pakaian dinas.
    • Pengawas ruang yang melakukan pelanggaran wajib dikenakan sanksi.
  25. Pengolahan data hasil ujian akan mempertimbangkan:
    • Pemindaian SMA yang dilakukan oleh perguruan tinggi, SMP oleh dinas provinsi, dan sekolah dasar oleh dinas pendidikan kabupaten/kota dengan batuan polisi.
    • Penskoran hasil UN dilakukan oleh penyelengara pusat yang diawasi BSNP.
    • Validasi nilai sekolah dilakukan oleh penyelenggara pusat dan diawasi BSNP.
  26. Salah satu fungsi penting UN adalah untuk pemetaan, maka dari itu Kemdikbud segera melakukan analisis hasil UN dan didistribusikan ke semua provinsi di seluruh Indonesia dengan meminta kepada semua pihak untuk menggunakannya sebagai rujukan utama pengembangan pedidikan.
  27. Perlu disusun pos penyelenggaraan UN yang komprehensif sebagai pedoman penyelenggaran nasional.

source : http://edukasi.kompas.com/read/2013/09/27/1334144/Ini.Dia.27.Poin.Hasil.Konvensi.UN

One Response to 27 Poin Hasil Ujian Nasional

Leave a Reply